Tag

, , ,


Rabu, tanggal 21 Mei 2014 saya dimintai bantuan untuk mengantarkan teman ke Laris Komputer di sebelah utara tugu walet Kebumen dengan keperluan memasang infus pada printer Canon iP 2770 karena tinta pada catridge sudah habis.

Pada waktu pertama beli, kebetulan saya juga yang menemani, sudah saya sarankan untuk sekalian dipasang infus agar ke depannya tidak repot ketika tinta habis. Namun karena keterbatasan dana, terpaksa baru dapat membeli versi standar alias belum dipasangi infus.

Bila belum dipasangi infus, cukup repot juga ketika tinta habis karena untuk memasukkan tinta harus dengan cara disuntikkan langsung ke catridge-nya. Untuk beli catdrige baru mungkin opsi ke sekian karena keterbatasan dana. Dan pilihan terbaik menurut saya yakni dengan dipasangi infus, dengan menambah biaya pemasangan sekaligus tinta dalam keadaan penuh sebesar Rp 100.000,-.

Sesuai janji petugas Laris Komputer ketika terjadi apa – apa dengan printer-nya, untuk silahkan dibawa saja kembali, maka kami kembali ke toko tersebut untuk dipasangi infus. Sebenarnya ada banyak tempat yang dapat memasang infus, namun teman saya tersebut inginnya kembali ke toko Laris, jadi saya ngikut saja.

Poin pentingnya bukan pada infus/printernya, namun pada saat perjalanan kami menuju ke toko Laris dan kembali ke rumah.

Teman saya seorang wanita. Dan pada saat akan ke toko laris, memakai rok, bukan celana panjang. Karena cukup repot ketika membawa printer yang berukuran cukup besar, akhirnya saya yang berada di belakang dengan membawa printer dan diletakkan di pangkuan.

Ketika dibonceng, rasanya cukup takut juga karena baru pertama kalinya dibonceng olehnya. Dari sini saya jadi mikir – mikir. Bagaimana bila ketika berkendara ini dikaitkan dengan kehidupan berkeluarga? Maksudnya yakni seseorang yang berada di belakang (dibonceng) tentu saja harus percaya dan manut pada seseorang yang di depan (membonceng).

Bagi yang di depan (membonceng) tentu saja harus punya skill/kemampuan berkendara yang baik, mengetahui rute perjalanan yang akan ditempuh, berhati – hati dalam mengendarai motor karena selain dirinya, juga ada seseorang yang dibonceng olehnya dalam artian keselamatan penumpang menjadi tanggung jawab dirinya.

Pun demikian halnya dalam keluarga, seorang suami harus mempunyai skill/kemampuan yang baik sebagai seorang pemimpin, sehingga dapat menjalankan tugas dan kewajibannya sebagai kepala keluarga dengan baik.

Mengetahui rute yang akan ditempuh yakni dapat mengarahkan akan kemana biduk rumah tangganya dibawa. Tentu saja bagi muslim yakni mewujudkan keluarga yang sakinah, mawadah, warohmah dengan tujuan kebahagiaan di dunia dan terutama kebahagiaan di akhirat.

Bagi yang di belakang (dibonceng) dapat berperan untuk mengingatkan bilamana yang di depan (pembonceng) mungkin dalam berkendara ugal – ugalan di jalan sehingga membahayakan perjalanan, memberikan saran pilihan rute terbaik yang dapat ditempuh, memberikan tanda tambahan ketika akan berbelok ataupun mendahului kendaraan di depannya.

Hal tersebut kesemuanya bertujuan agar baik pembonceng maupun yang dibonceng dapat selamat sampai tujuan. Pun demikian halnya dalam biduk rumah tangga, demi terwujudnya tujuan yakni keluarga yang sakinah, mawadah wa rohmah dan selamat baik di dunia maupun di akhirat.

Demikianlah pengalaman yang saya rasakan ketika jadi pihak yang di belakang (dibonceng) ketika berkendara. Baru kepikiran, karena tidak pernah dalam posisi dibonceng ketika berkendara, sering-seringnya selalu di depan.

Semoga dapat bermanfaat dan diambil hikmahnya untuk kita semua. amiin..