Dalam dunia pendidikan, saat ini tengah gencar dilakukan penanaman pendidikan berkarakter kepada para peserta didik. Hal ini adalah akibat dari semakin merosotnya nilai – nilai kebaikan (karakter baik) yang ada dalam diri siswa sebagai bekal kehidupannya di dalam bermasyarakat.

Sebagai contoh dimana para pelajar sekarang ini semakin gemar melakukan aksi tawuran dan sudah tidak mengindahkan lagi adanya aparat penegak ketertiban yang berusaha membubarkannya. Banyak anak muda yang melakukan seks bebas. Pornografi yang semakin gencar menjadi konsumsi anak muda, bahkan anak sd pun terkadang sudah ada yang tau tentang pornografi, serta banyak hal negatif lainnya tanpa berusaha untuk mengingkari segi positif yang ada dalam diri anak muda.

Bila kita cermati, hal – hal negatif tadi adalah sebuah bentuk aktivitas yang berujung pada ajang kemaksiatan yang menimbulkan dosa. Menurut saya pribadi, pendidikan karakter di sekolah sebenarnya sudah baik meski memang harus selalu ditingkatkan kualitas maupun kuantitasnya. Hanya saja, peran serta dari siswa, orang tua, masyarakat serta lingkungannya jauh lebih penting untuk semakin menguatkan karakter baik yang telah ditanamkan kepada siswa di bangku sekolah.

Sebagai sebuah renungan yang saya rasa patut untuk menjadi renungan bagi kita semua, terutama bagi para orang tua yang menginginkan anak – anaknya menjadi anak yang soleh/solehah, yaitu salah satunya tentang kehalalan makanan yang dimakan.

Pernah saya mendengar kata – kata bahwa “mencari yang haram saja susah apalagi mencari yang halal”. Memang semakin hari mencukupi kebutuhan hidup semakin menjadi tantangan yang berat bagi para orang tua. Namun bukan berarti lantas menghalalkan segala cara untuk mencukupinya, karena hal itu akan berdampak sangat besar bagi perkembangan kehidupan anda sendiri maupun bagi keluarga yang anda nafkahi, dimana akan semakin dijauhkan dari hal – hal baik yang bernilai ibadah, semakin sering terjadi pertengkaran dengan istri/anak, anak – anak susah diatur, serta banyak hal negatif lainnya.

Energi yang dihasilkan dari makanan yang halal akan mengarahkan diri untuk melakukan aktivitas yang baik dan positif.

Sebaliknya, mengonsumsi makanan yang haram mempengaruhi gerak aktivitas tubuh untuk melakukan sesuatu yang haram atau menghasilkan energi negatif destruktif. Makanan haram membuat tubuh merasa berat untuk melakukan aktivitas yang bernilai ibadah, dan semakin mudah untuk melakukan aktivitas maksiat.

Adapun kehalalan makanan dapat dilihat dari dua sisi. Yang pertama adalah dari zat makanan yang terkandung di dalamnya, dari mulai alat, bahan-bahan dan cara pengolahannya haruslah sesuai dengan cara halal. Yang kedua, halal dari cara mendapatkannya, haruslah dari cara yang halal, bukan dari mencuri, berbohong, korupsi, dan sebagainya.

Sudah saatnya pendidikan karakter yang ditanamkan kepada siswa di sekolah untuk mendapat dukungan dari para orang tua dengan selalu hanya memberikan hal – hal yang halal kepada mereka dan semoga saja kita semua mendapat hidayah dari Alloh swt sehingga kita mudah untuk melakukan ketaatan atas segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.