Ramadhan di mana dalam bulan itu umat Islam yang sudah baligh, berakal, mampu untuk mengerjakannya serta dalam keadaan suci dari haid maupun nifas adalah diwajibkan untuk melakukan ibadah puasa. Karena sudah merasa seperti sebuah ritual yang dilakukan setiap tahun sekali, terkadang ada orang islam yang melakukan puasa karena merasa malu untuk tidak berpuasa lantaran sebagian besar anggota keluarga/masyarakat di daerah tempatnya tinggal melakukan puasa. Hal ini menjadikan kita lupa bahwa sebenarnya puasa adalah suatu kewajiban, bukan sebuah ritual tahunan rutin. Karena kurangnya kesadaran bahwa ibadah puasa ini adalah suatu kewajiban, terkadang membuat orang menggampangkan ibadah yang sebenarnya sangat mulia ini seperti halnya dengan cara tidak berpuasa baik secara terang – terangan maupun secara sembunyi – sembunyi.

Memang ada beberapa hal yang menjadi keringanan (rukhsah) bagi seseorang untuk tidak berpuasa seperti halnya ketika bepergian jauh (musafir), sakit, ibu hamil atau menyusui, orang tua yang sudah tidak mampu untuk berpuasa, orang yang bekerja berat.
Sedikit berbagi pengalaman yakni sekitar tahun 2006 lalu dimana saat itu saya bekerja di sebuah perusahaan otomotif berskala nasional. Saya bekerja di bagian pengelasan/welding yang mana pekerjaannya dilakukan di dalam ruangan (tertutup) dan di sana-sini banyak “kembang api” hasil dari proses pengelasan baik dari hasil pekerjaan sendiri maupun dari hasil pekerjaan rekan kerja lainnya. Tidak jarang kembang api tadi menghampiri saya, untunglah sarana safety-nya lengkap, mulai dari sepatu safety, kacamata, helm/pelindung kepala, apron, sarung tangan dobel, baju lengan panjang, ear plug, dan pelindung nadi. Hal ini mengakibatkan kondisi ruangan cukup panas bila tidak ada kipas angin/bila kipas angin mati akibat terputusnya aliran listrik terlebih dengan mengenakan alat keselamatan kerja tadi, akan terasa lebih panas lagi. Dan juga alat kerjanya kebanyakan relatif berat sehingga membutuhkan tenaga yang relatif besar untuk mengoperasikannya. Dapat dibayangkan betapa menguras energi pekerjaan yang saya lakukan, terlebih lagi ketika memasuki bulan puasa/bulan ramadhan.


Pekerjaan yang sangat menguras tenaga untuk hari – hari normal tentunya, terlebih lagi ketika bulan ramadhan tiba, dan sebagai umat muslim saya wajib untuk menjalankan ibadah puasa. Pembagian waktu kerja tiap minggunya berubah, dimana untuk satu minggu masuk kerja pagi hari dan satu minggu berikutnya masuk kerja malam hari, begitu seterusnya. Jadi jam kerja bergantian setiap satu minggu sekali.

Ketika mendapat giliran masuk kerja di malam hari di bulan ramadhan, tentu saja kondisinya tidak terlalu berbeda jauh dengan bekerja di bulan selain bulan ramadhan, dimana tetap mendapat jatah makan malam, hanya saja waktunya yang tadinya jam 12 malam digeser menjadi sesuai dengan waktu sahur.

Berbeda halnya ketika mendapat giliran masuk kerja pagi, dimana saya dan teman – teman muslim lainnya melaksanakan ibadah puasa. Meskipun terkadang ada yang tidak melaksanakan puasa, namun dari kebijaksanaan perusahaan bahwa mereka tidak menyediakan jatah makan siang untuk menghormati para pekerjanya yang melaksanakan ibadah puasa, namun jatah makan siang tadi diganti dengan uang makan yang dibayarkan bersamaan dengan penerimaan gaji bulanan. Sehingga pada akhirnya para pekerja yang beragama islam, baik yang berpuasa maupun yang tidak berpuasa sama – sama tidak akan memperoleh jatah makan siang di kantin.
Tetap melaksanakan ibadah puasa di tengah pekerjaan berat tentu saja menjadi sebuah ujian yang cukup berat bagi saya maupun teman – teman sekerja lainnya. Ujiannya bukanlah rasa lapar, akan tetapi rasa haus yang begitu menyiksa. Terkadang ada beberapa teman yang karena tidak kuat menahan rasa haus akhirnya memilih untuk membatalkan puasanya dan minum dari air galon yang tersedia. Pernah satu kali saya juga melakukan hal serupa, yaitu minum dari air galon yang tersedia. Hal itu saya lakukan disamping karena memang rasa haus yang begitu menyiksa, namun lebih cenderung karena saya tergoda oleh teman – teman lainnya yang membatalkan puasanya dengan minum, apalagi airnya sangat dingin, karena menggunakan dispenser. Namun ternyata hal itu tidaklah menjadikan rasa haus saya hilang, justru malahan membuat saya merasa semakin tidak nyaman dengan keadaan rasa haus yang saya rasakan. Air yang saya minum ketika sampai di tenggorokan terasa begitu pahit, sama sekali tidak terasa nikmatnya minum air dingin di tengah kehausan yang mendera.

Sejak kejadian saat itu, meskipun tersiksa dengan rasa haus yang sangat ketika bekerja, saya lebih memilih untuk mempertahankan ibadah puasa yang saya lakukan, dan alhamdulillah puasa saya tetap dapat dipertahankan hingga menjelang waktu berbuka tiba. Dan ternyata, makan dan minum ketika berbuka puasa setelah seharian menjalani pekerjaan berat terasa begitu nikmat dan ada kepuasan tersendiri yang saya rasakan.Berkaca dari pengalaman saya tadi, saya mengambil pelajaran dan akhirnya berkesimpulan bahwa seberat apapun pekerjaan yang kita lakukan untuk mencukupi kebutuhan hidup kita, sudah menjadi kewajiban bagi kita sebagai umat islam untuk tetap menjalankan ibadah puasa meskipun ada rukhsah/keringanan yang membolehkan seseorang untuk mengganti puasanya di lain hari karena pekerjaannya yang berat.

Satu hal yang sangat perlu untuk diperhatikan adalah bahwa seberat apapun pekerjaan yang kita lakukan sebagai usaha kita untuk mencukupi kebutuhan hidup, dengan niat yang kuat dari dalam hari serta usaha maksimal untuk tetap menjalankan ibadah puasa, dengan izin dari Alloh, maka pekerjaan tadi akan terasa lebih ringan sehingga insyaAlloh puasa kita dapat terus berlanjut hingga waktu berbuka puasa tiba.

Sebagai catatan kecil bahwa berpuasa di bulan ramadhan adalah ibadah wajib, sehingga akan sangat besar pahalanya bila kita mampu menjalankannya dengan sebaik mungkin. Dan sebaliknya, karena merupakan ibadah wajib, bagi seseorang yang sudah diwajibkan untuk berpuasa akan tetapi tidak melaksanakan ibadah puasa tanpa alasan yang dibenarkan (rukhsah/keringanan), maka setiap perbuatan yang dilakukannya sepanjang hari itu adalah dinilai sebagai sebuah dosa. Jadi, tetaplah berusaha untuk berpuasa, insyaalloh jalan kita dimudahkan olehNya.