Tag

, , ,


Dalam kehidupan sehari – hari, apakah anda termasuk orang yang mendapat kepercayaan dari orang lain? Coba renungkan mengapa anda bisa mendapatkan kepercayaan dari mereka? Bukankah salah satunya dikarenakan anda adalah seorang yang jujur?! Saya salut kepada anda yang telah jujur.

Menjalin hubungan dengan orang yang jujur akan menimbulkan rasa tenang, percaya, damai serta nyaman. Coba bila kita bandingkan bila kita berhubungan dengan seorang pendusta, yang ada hanyalah rasa was – was, tidak percaya, dan tidak mungkin kita mengatakan suatu hal yang penting menyangkut rahasia diri kita kepada seorang pendusta. Jadi, akankah memilih menjalin hubungan dengan orang yang jujur atau orang yang dusta?

Lalu sebenarnya apakah arti jujur itu? Jujur dalam arti sempit adalah sesuainya ucapan lisan dengan kenyataan. Dan dalam pengertian yang lebih umum adalah sesuainya lahir dan batin. Mudah untuk dikatakan namun membutuhkan kesungguhan dalam penerapannya.

Lidah tidak bertulang, begitulah pepatah mengatakan. Dengan mudahnya, lidah mengatakan sesuatu yang dusta, menciptakan fitnah yang lebih keji dari pembunuhan, serta masih banyak hal yang dapat ditimbulkan oleh lidah seorang yang tidak jujur (pendusta). Oleh karena itu, demi keselamatan diri sendiri baik di dunia maupun di akhirat, lidah harus selalu dijaga serta dipelihara dari perkataan dusta.

Di antara pengaruh kejujuran adalah teguhnya pendirian, kuatnya hati, dan jelasnya persoalan, yang memberikan ketenangan kepada pendengar. Dan di antara tanda dusta adalah ragu-ragu, gagap, bingung, dan bertentangan, yang membuat pendengar merasa ragu dan tidak tenang.

Abdullah bin Dinar meriwayatkan, suatu hari ia melakukan perjalanan bersama Khalifah Umar bin Khathab r.a dari Madinah ke Mekah. Di tengah jalan mereka berjumpa dengan seorang anak gembala yang tampak sibuk mengurus kambing-kambingnya. Seketika itu muncul keinginan Khalifah untuk menguji kejujuran si gembala. Kata Khalifah Umar, “Wahai gembala, juallah kepadaku seekor kambingmu.” “Aku hanya seorang budak, tidak berhak menjualnya,” jawab si gembala. “Katakan saja nanti kepada tuanmu, satu ekor kambingmu dimakan serigala,” lanjut Khalifah. Kemudian si gembala menjawab dengan sebuah pertanyaan, “Lalu, di mana Allah?”

Khalifah Umar tertegun karena jawaban itu. Sambil meneteskan air mata ia pun berkata, “Kalimat ‘di mana Allah’ itu telah memerdekakan kamu di dunia ini, semoga dengan kalimat ini pula akan memerdekakan kamu di akhirat kelak.” Kisah di atas merupakan gambaran pribadi yang jujur, menjalankan kewajiban dengan disiplin yang kuat, tidak akan melakukan kebohongan walau diiming-imingi dengan keuntungan materi.

Mengapa saya harus jujur? Selain perbuatan yang berpahala, kejujuran juga merupakan cermin pribadi diri serta meninggikan derajat. Sulitkah menjadi seorang yang jujur? Kejujuran dapat dilatih agar menjadi kebiasaan yang tidak perlu untuk dipikirkan lagi dan tercermin dalam tingkah laku kehidupan kita sehari – hari.

Akhir kata, selalu berkata dan berbuat jujurlah dalam kehidupan kita walaupun pahit. Jujur adalah pilihan terbaik walaupun tidak “nge-trend”.